Tajuddin Batubara: Penjaga Sejarah Kota Tua Barus

Kompas 1 Apr 2005, HAMPIR semua orang di pusat kota tua Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang Kompas tanya tentang siapa yang tahu sejarah kota mereka, selalu saja menyuruh agar menemui Ustadz Tajuddin Batubara (57). Dialah lelaki yang disebut-sebut masyarakat di pesisir Pantai Barat Sumatera itu “penjaga sejarah Barus”. CAMAT Barus Hotmauli Sitompul juga menunjuk lelaki yang sama saat ditanya tentang sejarah Barus. Sebelumnya, aparat pemerintah itu mengaku tidak bisa memberikan data tentang sejarah Barus karena merasa mereka tidak tahu banyak. Kemudian, seorang staf kecamatan mengantarkan saya ke rumah sederhana dari kayu di pinggir kota. Seorang yang berperawakan kecil dengan rambut yang sudah memutih menyambut ramah. Dialah Ustadz Tajuddin Batubara, tokoh lokal yang secara swadaya mengumpulkan jejak-jejak sejarah kotanya. “Sekarang kita kenalan dulu saja. Sejarah Barus kita diskusikan nanti malam agar lebih tenang. Saya juga akan menyiapkan referensi yang dibutuhkan,” tuturnya. Malam hari sekitar pukul 20.30, lelaki tua itu datang di tempat saya menginap. Dia membawa buku-buku dan sejumlah naskah tentang sejarah Barus yang sebagian di antaranya ditulisnya sendiri. Menurutnya, sebagian referensi yang dimilikinya berasal dari kawan-kawannya di Jakarta, Malaysia, dan kawan-kawannya dari tanah Arab. “Saya bukan yang paling tahu sejarah Barus. Sudah banyak ilmuwan yang meneliti Barus, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sebagian di antaranya asli dari Barus. Tetapi, mereka semuanya meninggalkan Barus setelah mendapatkan data untuk disertasi atau buku mereka. Karena hanya saya yang tinggal di sini, saya pun memberanikan diri untuk bercerita tentang sejarah Barus. Sebagian ilmu ini saya dapat saat menemani mereka meneliti,” paparnya mengawali pembicaraan. Kemudian dia bercerita tentang Barus dengan penuh semangat. Referensi sejarahnya cukup kuat. Analisisnya logis dan tajam. Pukul 24.00, saya bertanya kepadanya, sampai jam berapa dia bisa menemani berbicara. “Sampai pagi pun saya siap kalau berdiskusi tentang sejarah Barus. Ini salah satu hal penting bagi saya, yaitu menyampaikan informasi tentang Barus yang selama ini masih kabur kepada orang lain,” ujarnya penuh semangat. Saat menyitir tulisan dan analisis orang lain, Tajuddin selalu menyebutkannya secara terus terang. “Kepastian adanya permukiman bangsa Tamil, Arab, Jawa di Lobu Tua saya ketahui setelah bertemu dengan Daniel Perret, peneliti dari EFEO Perancis yang melakukan penggalian di Lobu Tua, Barus, sejak beberapa tahun lalu,” ujar lelaki yang sering menemani para peneliti sejarah di Barus ini. Kedatangan para peneliti dari EFEO ini sempat menimbulkan masalah di Barus karena sebagian masyarakat curiga artefak yang ditemukan di Barus akan diangkut ke Perancis. Tajuddin yang menjadi Ketua Bidang Sejarah dan Budaya Ikatan Keluarga Besar Fansuri, perkumpulan tokoh-tokoh dari Barus, akhirnya ikut dilibatkan sebagai wakil masyarakat lokal untuk menjamin tidak adanya pencurian artefak. AKHIRNYA, perbincangan malam itu kami akhiri sekitar pukul 01.30 dini hari, dengan kesepakatan pagi nanti dia akan menunjukkan secara langsung jejak-jejak sejarah yang masih tersisa di Barus. Tepat pukul 08.00, Tajuddin membawa saya menyusuri jejak-jejak sejarah, yang sebagian besar berupa makam-makam tua berusia ratusan tahun. Masyarakat setempat menamakan makam-makam yang berada di berbagai tempat itu sebagai makam “aulia 44″. Perjalanan pertama kami mulai dengan mendaki makam di Papan Tinggi yang memiliki 717 tangga, dengan ketinggian masing-masing tangga sekitar 20 cm. Kakek satu cucu itu menapak tangga menuju makam dengan mantap. Hanya sesekali dia beristirahat. “Beberapa hari lalu, saya juga naik ke makam ini, menemani seorang ulama dari Sibolga yang ingin berziarah,” tuturnya. Setelah berdoa, Tajuddin kemudian menerangkan tentang batu nisan bertuliskan huruf Arab tersebut. “Menurut saya, tulisan ini menjelaskan tentang Syekh Mahmud yang berasal dari Hadratulmaut, yaitu kawasan di Jazirah Arab. Dia adalah seorang yang terhormat karena makamnya diletakkan ditempat tinggi. Tetapi, pendapat saya ini berbeda dengan ahli kaligrafi dari Perancis yang diundang oleh EFEO,” ujarnya. Pengetahuannya tentang kaligrafi dan bahasa Arab terlihat saat dia menerangkan tentang makna tulisan yang samar- samar terpahat pada nisan tua itu secara fasih. SUDAH 22 tahun Ustadz Tajuddin menjadi pemandu bagi pengunjung Barus tanpa mengharapkan imbalan materi. Kecintaannya pada sejarah Nusantara, dan sejarah Barus pada khususnya, adalah energi yang mendorongnya mengumpulkan referensi tentang Barus, menerangkan kepada semua orang yang membutuhkan, dan menjadi pemandu bagi siapa pun yang ingin menyusuri jejak-jejak sejarah Barus secara cuma-cuma.

Tajuddin sebenarnya bukan putra Barus asli. Dia kelahiran Desa Binanga, Kecamatan Payabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada tahun 1948. Pada awal tahun 1983, dia ditempatkan di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, sebagai staf tata usaha Sekolah Menengah Atas Negeri Barus. Tajuddin pun diminta oleh Nahdlatul Ulama Kecamatan Barus untuk tinggal dan mengajar madrasah di Desa Lobu Tua, yang saat itu masih bagian dari Kecamatan Barus, di samping tugasnya di SMAN Barus. Berbagai peninggalan di Lobu Tua telah membangkitkan minat Tajuddin pada sejarah. Dia pun memulai perjalanan menyusuri setiap pelosok Barus untuk mengumpulkan jejak-jejak sejarah yang tersisa. Dia mendatangi makam-makam tua dengan nisan bertuliskan huruf Arab yang terserak di Barus, dan mempelajarinya sesuai dengan kemampuannya dalam bahasa dan kaligrafi Arab. Berbagai referensi tentang Barus pun diburunya. Cerita orang-orang tua dari mulut ke mulut dia dokumentasikan. Jadilah sebuah cerita tentang Barus yang lebih runut. Tajuddin kemudian menuliskan puing-puing sejarah yang dikumpulkannya dengan menggunakan mesin ketik manual, berjudul Sejarah Ringkas Kota Barus Negeri Tua.

 

 

 

Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Sebardi juang harahap  On Kamis, 2 September, 2010 at 11:58 PM

    Jadi kepingin ganti tesis.kebetulan saya lagi di barus.

  • andryan purba/rambe  On Minggu, 29 Agustus, 2010 at 1:22 PM

    maju terus kota tua aku selalu mendukungmu untuk bp tajudin batu bara tolong teliti terus kota barus dan tunjukkan pada seluruh dunia bahwa kota kita mempunyai nilai tinggi

  • UMAR LIMBONG,SH  On Selasa, 17 Agustus, 2010 at 10:21 AM

    MOHON KEPADA GURU SAYA TAJUDDIN BATUBARA TETAP BERJUANG UNTUK MELESTARIKAN SEJARAH KOTA TUA BARUS TERSEBUT MUDAH-MUDAHAN APA YANG DISAMPAIKAN BERGUNA UNTUK KEMAJUAN PUTRA PUTRI TAPANULI TENGAH

  • Tulus Hutagalung, ST  On Minggu, 16 Agustus, 2009 at 4:31 PM

    Salam sejahtera….
    Pertama saya ucapkan terimakasih buat Bapak T. Batubara selaku pemerhati bahkan penyambung sejarah dari Kota Barus yg notabene Kota Tertua di Nusantara ini dan saya juga berharap baik pihak Pemko maupun Muspika setempat agar dapat mengupayakan kelestarian peninggalan yg berada di Kec. Barus, Kec. Amdan Dewi, Kec. Sosorgadong. dari Putra Batak Kelahiran Barus (Aek Rogas-Sipodang)
    SEMOGA BERJAYA BUAT BARUS RAYA
    Terimakasih.

  • ririn  On Senin, 8 Juni, 2009 at 6:46 PM

    mmmmm………mmmmmmm

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.