Terkait Terbitnya SK Protap

TB Silalahi: Saya Tak Tahu SK Gubsu

JAKARTA-METRO, 26 Pebruari 2009; Tim investigasi kasus unjuk rasa maut yang dibentuk Komisi III DPR di Senayan, Rabu (25/2) meminta keterangan Luhut Panjaitan dan TB Silalahi. Dua tokoh asal Sumut itu ditanya mengenai isu aktor intelektual di Jakarta di balik aksi unjuk rasa 3 Februari itu. Begitu keluar dari ruang Komisi III DPR, kepada wartawan TB Silalahi menyatakan dirinya sama sekali tidak tahu menahu masalah keluarnya Surat Keputusan (SK) Gubsu Syamsul Arifin No.130/3422.K/2008 tanggal 26 September 2008 yang merupakan rekomendasi pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap). Saat dikonfirmasi mengenai isu yang berkembang bahwa dia sempat menelepon Syamsul Arifin agar mengeluarkan SK tersebut, TB Silalahi membantah hal itu. “Saya nggak tahu menahu tentang SK Gubernur. Saya tegaskan, saya nggak tahu. Dengan gubernur ini, meski saya dekat, tapi tidak pernah berbicara ataupun bertanya mengenai Provinsi Tapanuli,” ungkap TB Silalahi. Dia dimintai keterangan tim yang dipimpin Maiyasyak Johan itu dari pukul 12.25 hingga 14.15 WIB. TB Silalahi menceritakan, dalam pertemuan itu tim investigasi meminta konfirmasi kepada dirinya mengenai pemberitaan sejumlah media massa yang menyebut adanya aktor intelektual di Jakarta. “Yang sedikit banyak menyinggung peranan saya. Nah, tim ingin mendengarkan langsung informasi mengenai hal itu dari saya,” ujar anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu. Diakui pula, tim juga mempertanyakan mengenai kaitan dirinya dengan panitia pembentukan Protap. Dijelaskan TB Silalahi, dirinya hanya dimintai nasehat saja, itu pun dia baru sekali bertemu dengan panitia pada 2007 silam. “Saya katakan kepada mereka, mengacu saja kepada UU No.32 Tahun 2004, jalankan sesuai prosedur,” ujar mantan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara itu. Kalau namanya ada di struktur kepanitian pembentukan Protap, TB Silalahi mengaku tidak tahu-menahu. Alasannya, sebagai anggota Wantimpres dia dilarang terlibat kepanitiaan seperti itu. Tim investigasi, kata TB Silalahi, juga bertanya kepada dirinya, siapa yang dimaksud aktor intelektual di Jakarta. “Saya sampaikan saya tak tahu,” ujarnya. Bahkan katanya, kejadian kerusuhan aksi demo 3 Februari baru dia ketahui dari pemberitaan di TV. Sementara, Luhut Panjaitan yang mendapat giliran lebih awal, yakni dari pukul 10.33 hingga 12.20 Wib, kepada wartawan mengatakan dia hanya menjelaskan apa saja yang dia ketahui tentang aspirasi Protap. Kepada tim, mantan Menperindag itu menyatakan ketidaksetujuannya dengan istilah aktor intelektual. “Kalau aktor intelektual untuk mengorganisir aksi unjuk pasti ada, tapi tak ada yang mengorganisir untuk sampai tewasnya Ketua DPRD,” ujar Luhut. Secara terang-terangan, dia juga bercerita bahwa kepada tim dia minta agar DPRD Sumut juga dimintai penjelasan. Pagi hari saat masih menunggu kedatangan para anggota tim investigasi, kepada koran ini Luhut juga menekankan pentingnya DPRD Sumut dimintai keterangan. “Tim pencari fakta DPRD Sumut itu mestinya sebelum bertanya ke banyak pihak, tanya dulu dirinya sendiri, mengapa sikap mereka terhadap aspirasi Protap tidak jelas. Seharusnya mereka cepat menggelar paripurna, setuju atau tidak setuju dan apa saja alasannya,” ujar Luhut. Dia mengaku mendapat informasi bahwa penolakan Protap dikait-kaitkan dengan isu sara. Alasan itu dinilai mengada-ngada karena orang Batak merupakan etnis yang paling demokratis. “Buktinya, mana pernah ada dalam sejarah masjid dibakar di Tapanuli,” cetus Luhut. Dia tidak membantah punya kaitan dengan panitia Protap. Hanya saja, dirinya hanya dimintai nasehat-nasehat. “Toh saya juga menjadi penasehat di mana-mana,” ucapnya. Terkait dengan pertemuannya dengan almarhum Aziz Angkat pada 12 Januari 2009, Luhut bercerita saat itu hanya ngobrol santai sambil makan. Dialog pun berlangsung biasa. “Saya tanya kapan akan paripurna, almarhum saat itu menjawab, rencananya 16 Januari. Lantas saya katakan, ya lah, jangan dibiarkan berlarut-larut, kalau tak pasti jadinya tak elok,” begitu cerita Luhut. Dinyatakan pula, kalau ada tuduhan bahwa dirinya menjadi aktor intelektual, hal itu merupakan tuduhan kampungan. “Apa urusan saya? Kepengen jadi gubernur? Nggak. Saya sudah tua. Kepentingan partai? Nggak. Saya bukan orang partai,” tegasnya. Pada kesempatan yang sama, dia menyesalkan penahanan terhadap sejumlah mahasiswa yang disangka ikut terlibat. Mestinya, kata Luhut, mahasiswa tak usah ditahan karena dia harus kuliah. “Toh mereka anak-anak kita juga. Mengenai tewasnya almarhum Aziz Angkat, semua pihak juga menyesalkan,” ucapnya. Anggota tim investigasi Komisi III DPR Junisab Akbar membenarkan Luhut dan TB Silalahi dikonfirmasi mengenai pemberitaan mengenai adanya aktor intelektual. “Keduanya membantah dan menegaskan tidak terlibat,” ujar Junisab. Dia menyatakan, tim tidak akan membuat kesimpulan benar tidaknya keterangan keduanya. Diminta tanggapan atas permintaan Luhut agar tim juga memanggil DPRD Sumut, Junisab mengatakan pihaknya sudah pernah bertemu DPRD Sumut saat tim ke Medan. Bahkan, tim pencari fakta DPRD Sumut juga sudah bertemu dengan tim Komisi III DPR di Senayan. Tapi dia berjanji akan membicarakan dengan anggota tim perlu tidaknya DPRD Sumut diminta datang ke Komisi III DPR. Mengenai tidak dipanggilnya Panja Komisi II DPR yang pernah meminta agar DPRD Sumut segera menggelar paripurna, Junisab menjawab, di DPR tidak ada aturan komisi mengadili komisi. Sedang anggota tim Gayus Lumbuun menyatakan, Komisi III hanya fokus pada persoalan penegakan hukum. “Kalau Komisi II pernah minta DPRD Sumut menggelar paripurna, itu urusan Komisi II,” cetus Gayus, politisi PDI Perjuangan itu. Ada hal lain yang juga menarik. Luhut datang ke Komisi III sebelum pukul 10.00 Wib, sesuai undangan. Hanya saja, saat dia datang belum ada satu pun anggota tim. Sekitar 45 menit dia duduk di ruang tunggu. Dia tampak kesal karena datang tepat waktu untuk menghormati anggota dewan. “Tapi mereka tak mau menghargai saya. Saya ini banyak urusan,” ucapnya kepada koran ini yang duduk di sampingnya. Luhut, yang kemarin mengenakan kemeja putih, bahkan sempat menelepon Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan. “Kau Ketua Komisi III, datanglah kau ke sini. Ini saya datang tepat waktu, tapi mereka belum ada yang datang,” ujar Luhut saat bicara dengan Trimedya, dan langsung menutup telepon. Kejengkelannya agak reda setelah Maiyasyak Johan datang pukul 10.33 Wib. Acara tertutup itu pun dimulai meski hanya dihadiri 4 dari 16 anggota tim investigasi. Baru selang beberapa saat, 4 anggota tim yang lain datang secara bertahap. Sore harinya, tim juga meminta penjelasan mantan Kapoltabes Medan Kombes Pol Aton Suhartono.

 

About these ads
Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • lae togar  On Kamis, 26 Februari, 2009 at 3:25 PM

    yah boleh aja tdk ma mengaku ada keterkaitan, tp dari hasil pengembangan penyidikan oleh aparat penyidik nanti pasti dapat diketahui ada atau tidaknya benang merah peran kedua tokoh di atas, soal mahasiswa yg terlibat dalam aksi anarkisme yah harus ditahan demi tegaknya hukum itu sendiri, hukum tidak mengenal namanya istilah mahasiswa, justru seharusnya mahasiswa yg bersangkutan seharusnya memiliki pemikiran patut atau tdk patut saat melakukan tindakan anarkisme tgl 3 Februari, fakta-fakta sdh jelas dan rakyat sumut pun tdk buta mata dan telinga atas siapun yg di duga terlibat dalam aksi anarkisme 3 Februari yg berujung maut, SK Gubsu ttg persetujuan Protap sdh jelas-jelas menyalahi ketentuan hukum yg berlaku Psl 14 PP No.78 tahun 2007, artinya Gubsu belum berwenang untuk menerbitkan SK Rekomendasi sebelum di setujui DPRD sebagai hasil Rapat Paripurna, ditambah lagi Protap pd tahun 2007 telah pernah ditolak oleh DPRD dan Gubernur pd masa Rudolf Pardede, artinya Gubsu sdh sepatutnya memahami mekanisme PP No78/2007, apalagi pd masa Rudolf udh pernah di tolak krn alasan belum layak untuk jadi Propinsi…bukan melempar kesalahan pada DPRD…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: