Penangkaran Sarang Walet di Manduamas dan Barus Tidak Berizin, Resahkan Masyarakat

Manduamas (SIB), Agustus 22nd, 2007, Pengusaha penangkaran sarang walet di Kecamatan Manduamas tidak miliki izin usaha dan resahkan masyarakat di kelurahan PO. Manduamas. Hal ini dibuktikan, tidak adanya laporan para pengusaha walet ke kantor camat setempat. Camat Manduamas, Poltak Sitorus BA, Jumat belum lama ini di kantornya mengatakan, pengusaha walet hanya memiliki IMB, bukan izin penangkaran walet. Dua tahun yang lalu pihak kecamatan sudah mensosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) tentang izin dan retribusi, serta memberikan rekomendasi pengurusan izin penangkaran walet kepada pengusaha untuk diteruskan ke Dinas Perdagangan Koperasi dan Industri (Dakopin) Tapteng, namun mereka tidak melaksanakannya. Bandelnya pengusaha walet ini juga sudah pernah dilaporkan ke kabupaten. Menanggapi laporan tersebut pihak kabupaten menurunkan Satpol PP sebagai langkah penertiban, namun sampai saat ini pihak kecamatan tidak mengetahui hasilnya, pengusaha walet terkesan tidak perduli dan tidak takut. Saya sangat menyesalkan sikap-sikap pengusaha penangkaran walet. Harusnya para pengusaha inilah yang menjembatani pengusaha walet lainnya supaya mengurus izin dan memperhatikan keluhan-keluhan masyarakat. Menanggapi keluhan masyarakat, tentang kebersihan lingkungan yang diabaikan, suara rekaman pemanggil burung walet masih bunyi saat waktu sholat dan kebaktian, tidak adanya saluran air di sekitar gedung, lurah PO. Manduamas, katanya, keluhan masyarakat ini sudah disampaikan langsung kepada pengusaha walet, namun tidak pernah diindahkan. Bahkan ada rumah penduduk yang tergenang air, disebabkan tidak adanya saluran air (got) di sekitar bangunan. Salah satu warga mengaku kepada wartawan, masih trauma dengan gempa tsunami tahun yang lewat, sebab bangunan penangkaran walet ada yang roboh menimpa rumah warga. Saya sangat khawatir karena rumah saya persis di samping salah satu bangunan penangkaran walet. Saya sangat meyesalkan tidak adanya kepedulian para pengusaha penangkaran walet terhadap lingkungan, harusnya gedung tersebut dihuni, untuk meminimalkan perkembangan nyamuk malaria tropika. Kita harapkan Dinas Perdagangan Koperasi dan Industri (Dakopin) Tapteng bertindak tegas terhadap pengusaha-pengusaha liar dan nakal untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tapteng. Dan bila perlu Camat berkerjasama dengan Kapolsek menindak tegas pengusaha-pengusaha penangkaran walet, jangan hanya mencari keuntungan saja. Kami sangat mendukung investor di Manduamas yang dapat memberi kontribusi langsung, terang Miduk Simbolon ST, Koordinator organisasi GEPAK Tapteng (Gerakan Pemuda Kristen) Kecamatan Manduamas kepada wartawan. Di Kecamatan Barus Pengusaha penangkaran sarang walet di Kelurahan Psr. Batu Gerigis Kecamatan Barus juga tidak miliki izin usaha. Hal ini dibuktikan, tidak adanya plank nama. Senin (4/6), Camat Kecamatan Barus Manaek Siregar SH, saat dikonfirmasi wartawan SIB di kantornya, mengatakan, sampai saat ini tidak ada laporan para pengusaha sarang walet ke kecamatan, saya sangat menyesalkan sistem perizinan, kok bisa para pengusaha tidak mempunyai izin, tapi bebas berusaha. Berhubung saya baru ditempatkan di sini, saya berjanji akan menindak lanjuti masalah ini dan menyurati para pengusaha sarang walet.

 

Sumber: Harian SIB

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: