Warga Keluhkan Suara Bising dari Penangkaran Walet

Sabtu, 13 Desember 2008, MANDUAMAS-METRO; Warga Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapteng mengeluhkan suara bising yang berasal dari alat perekam kaset untuk memanggil walet yang dipasang di gedung-gedung penangkaran walet yang terus berbunyi hingga 24 jam. Pasalnya, ketentraman warga saat tidur dan melaksanakan ibadah terusik. Menurut warga Manduamas, sudah hampir empat tahun lebih masyarakat merasa geram melihat banyaknya bangunan pencakar langit yang digunakan untuk penangkar burung walet. Pasalnya bangunan tersebut tidak sesuai dengan informasi yang diterima warga dari pengusaha tersebut.

Di mana pada saat itu, pengusaha  melakukan pembelian tanah untuk dijadikan pertapakan gedung, dan bukan untuk membuat penangkaran walet melainkan hanya untuk membuka usaha demi kemajuan perekonomian masyarakat di Kecamatan Manduamas. Sehingga masyarakat pada saat itu bersedia menjual tanahnya. Kini puluhan unit bangunan tersebut berdiri megah di pusat kota Manduamas bagaikan sebuah Mall di kota besar, namun bangunan tersebut tidak pernah dihuni oleh pemiliknya, melainkan hanya dihuni walet. Akibatnya warga di Kota Manduamas merasa tidak nyaman dan merasa terganggu karena suara bising dari rekaman kaset untuk memanggil walet mulai dari pagi hingga pada malam tanpa memikirkan warga yang akan melaksanakan ibadah gereja maupun shalat.

Selain itu warga di daerah ini sudah banyak yang diserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) akibat banyaknya nyamuk yang diduga berasal dari penangkaran walet tersebut. “Kita sudah resah atas kehadiran penangkar walet di daerah ini, sebab mereka tidak pernah memikirkan kesehatan warga yang berada di sekelilingnya, dan hanya untuk meraih keuntungan saja,” ujar warga. Selain itu, warga yang tinggal di sekitar bangunan penangkaran walet tersebut sudah ada yang pindah ke tempat lain karena takut sewaktu-waktu bangunan akan runtuh. Seperti tiga tahun yang lalu ada dua unit bangunan penangkaran walet runtuh dan menimpa bangunan warga. Lebih lanjut dikatakan warga, saat ini mereka sudah mulai bingung melihat pejabat di daerah ini yang tidak pernah memberikan teguran maupun tindakan terhadap pengusaha penangkaran walet, sehingga para pengusaha dengan leluasa menjalankan usahanya tanpa memikirkan kesehatan warga di sekelilingnya. “Sebelum ada penangkaran walet di Kelurahaan PO Manduamas, nyamuk-nyamuk tidak pernah ada sebanyak ini, tetapi sekarang sangat banyak dan sudah banyak warga di sekitar yang menderita DBD akibat dari penangkara walet tersebut. Namun upaya dari pengusaha penangkaran walet untuk melakukan antisipasi terjangkinya warga akibat banyaknya nyamuk di daerah ini seperti pengasapan hingga saat ini belum ada,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, Ketua Bidang Lingkungan Hidup LSM-LPPI (Lembaga Pemantau Pembangunan Indonesia)  Tapteng, Johannes Sigalingging meminta kepada aparat terkait untuk memberikan teguran terhadap para pengusaha penangkaran walet di Kelurahan PO Manduamas, agar selalu memperhatikan dampaknya kepada masyarakat. Sebab sejak maraknya penangkaran walet di daerah ini, nyamuk-nyamuk berbahaya semakin banyak dan dengan keadaan seperti ini sudah barang tentu akan mengancam kesehatan warga sekitar. “Sebelum ada penangkaran walet di PO Manduamas ini tidak pernah warga yang terjangkit DBD, tetapi sekarang sudah banyak. Dan kalau memang para pengusahanya membandel, supaya ditutup saja penangkaran waletnya.

 

Sumber: Harian Metrosiantar 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: