Sanggahan Pastor Rantinus Manalu

Berkaitan pemberitaan Koran Harian METRO TAPANULI, berjudul “Kasus Perambahan Hutan Register 74 di Barus Utara, Pastor Rantinus Resmi Tersangka”, yang diterbitkan, Sabtu, 19 Desember 2009, hal 1, dan sesuai dengan UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Pers, Pasal 5 (2) dan Kode Etik Jurnalistik, saya meminta agar sanggahan ini dimuat pada halaman yang sama:

1. Foto atau gambar yang dimuat bukanlah gambar lokasi Molhum, Desa Purbatua, Kecamatan Barus Utara, di mana warga Kelompok Tani “Rap Martua” melakukan aktivitas pengerjaan lahannya. Saya yakin gambar ini diambil dari objek atau lokasi lain, yang tidak ada kaitannya dengan lokasi Molhum. Kami telah pergi ke lokasi (Sabtu, 19/12) dan mengamati semua lokasi yang dikerjakan warga, tidak ada lokasi yang mirip dengan objek tampilan gambar yang dimuat. Pada sisi atau bagian mana dari lahan Molhum yang dijadikan objek pengambilan gambar itu? Saya yakin, gambar ini telah sengaja dimuat untuk mempengaruhi, menguatkan opini masyarakat, sebagaimana isi pemberitaan tersebut bahwa pembalakan liar telah terjadi sangat parah di Molhum. Hal ini tentu saja sangat merugikan pihak saya dan warga Kelompok Tani “Rap Martua”. Saya dalam membantu masyarakat menyediakan bibit karet justru bermotivasi untuk penghijauan daerah tandus, yang hanya ditumbuhi semak-semak tersebut. Pemuatan gambar ini saya anggap sebagai tindakan yang sengaja dilakukan sebagai bagian dari upaya rekayasa untuk mengkriminalisasi saya. Bila METRO TAPANULI merasa benar telah memuat gambar dari lokasi Molhum, demi terungkapnya kebenaran dan ditegakkannya keadilan, kami siap turun ke lokasi guna memastikan lokasi mana yang dijadikan objek pengambilan gambar oleh Wartawan METRO TAPANULI.

2. Gambaran kerusakan hutan yang diberitakan “Dua Desa Nyaris Gundul” sama sekali tidak sesuai dengan fakta lapangan. Lahan yang diusahai warga Kelompok Tani “Rap Martua” di Molhum, ada di lokasi berjarak kurang lebih tiga km dari Desa Purbatua dan Hutaginjang, dengan luas 190.5 Ha dan sama sekali bukanlah hutan bukaan, melainkan tanah milik warga yang sudah dikelola secara turun-temurun, yang menurut tanggal penandatanganan salah satu surat alas hak sudah sejak tahun 1941.

3. Sesuai dengan surat panggilan No Pol: S.Pgl/2530/XII/2009/Dit Reskrim tertanggal 09 Desember 2009 yang ditandatangani oleh Direktur Reserse Kriminal POLDA SUMUT, selaku Penyidik, Kombes Pol Drs. Agus Andrianto, SH, kepada saya disangkakan Tindak Pidana mengerjakan, menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah dan atau merambah, membakar kawasan hutan di Register 47 Desa Purba Tua dan Desa Hutaginjang Kecamatan Barus Utara Kabupaten tapanuli Tengah. Bukan kawasan hutan di Register 74, sebagaimana dalam pemberitaan METRO TAPANULI terebut.

4. Sebagaimana digariskan dalam Kode Etik Jurnalistik: “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk (Pasal 1); Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. (Pasal 3)”. Karena itu dalam pemberitaan tersebut, saya menganggap METRO TAPANULI telah melakukan pelanggaran Kode Etik Jurnalistik dengan alasan: 1) Tampilan gambar tidak memuat keterangan waktu pengambilan gambar; 2) Saya tidak pernah dihubungi guna memintai keterangan oleh METRO TAPANULI terkait kasus ini sebagai upaya chek and recheck untuk mendapatkan kebenaran informasi sehingga menghasilkan pemberitaan yang seimbang; 3) METRO TAPANULI telah mencampur-adukkan fakta – masyarakat mengolah lahannya yang sudah dikerjakan turun-temurun – dan opini dari narasumber yang mengatakan bahwa “Dua Desa Nyaris Gundul”, sehingga dengan semua itu saya telah dihakimi.

5. Demikian sanggahan ini saya sampaikan sebagai upaya mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan. Sanggahan ini juga sebagai wujud dari penghormatan kami atas Undang-undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Sedangkan hak hukum kami atas pencemaran nama baik akan kami upayakan dalam bentuk lain terhadap narasumber terkait. Atas pemuatannya saya haturkan terima kasih.

P Rantinus Manalu, Pr

*Catatan Redaksi:

1. Sumber foto yang dimuat tanggal 19 Desember 2009 adalah dari video yang diambil aparat Dinas Kehutanan Tapteng dari Desa Molhum dan Desa Hutaginjang akhir November 2009, saat aparat Dishut turun bersama Tim Poldasu ke lokasi dimaksud.

2. Tentang nama hutan Register 74 (bukan Register 47), nama itu sesuai keterangan dan dokumen dari pihak Dinas Kehutanan Tapteng.

Redaksi

Dikutip dari  www.metrosiantar.com, tanggal 19 Januari 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: