Korban Calo CPNS [Tapteng] 19 Orang

Rabu, 03 Pebruari 2010

Rp210 Juta Belum Dikembalikan
SIBOLGA–METRO; Korban calo penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), LP ternyata tak hanya 3 orang. Namun sedikitnya 19 orang. Itu pun baru hanya di wilayah Sibolga-Tapteng.

Salah seorang korban, Selamat Sigalingging (32) warga Jalan Gambolo, Kecamatan Sibolga Sambas, yang mengatakan, korban LP mencapai 19 orang di Sibolga dan Tapteng. Bahkan, katanya, besar kemungkinan ada yang berasal dari daerah lain, seperti Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, Tapanuli Utara, Tobasa, Pematangsiantar, Binjai, dan Medan. Hanya saja, katanya, mungkin mereka yang berasal dari luar daerah tidak mengetahui keberadaan LP, sehingga tidak menuntut uang mereka dikembalikan.

“Saya sangat yakin, bukan hanya dari warga kedua daerah ini yang tertipu, tetapi masih ada dari luar daerah. Sebab ketika kami mengikuti bimbingan tes di Medan, ada juga yang dari luar daerah. Hanya saja ketika itu, saat bimbingan tes dilakukan selama dua minggu, jadwal bimbingan dari setiap daerah tidak bersamaan. Yang pasti jumlah kami sangat banyak,” beber Selamat tanpa merinci jumlah yang mengikuti bimbingan tes menjelang ujian penerimaan CPNS.

Lebih lanjut Selamat mengatakan, dari 19 warga Sibolga dan Tapteng yang menjadi korban LP, sebanyak 10 orang telah menerima uangnya kembali. Sehingga hingga saat ini yang masih menuntut pengembalian ada 9 orang.

“Dari sembilan orang itu, sudah termasuk keluarga kami, yakni saya sendiri, lalu adiuk ipar saya Rodiana Hutabarat (28) dan Zetro Hutabarat (29),” sebut Selamat, seraya menunjukkan dua lembar kuitansi setoran kepada LP yang dilengkapi materai Rp6.000, serta ditandatangani LP, tertanggal 18 April 2007.

Disebutkan Selamat, kesembilan warga Sibolga dan Tapteng yang masih menunggu pengembalian uang dari LP yakni Rodiana Hutabarat Rp30 juta, Selamat Rp20 juta, dan Zetro Hutabarat Rp20 juta (ketiganya warga Jalan Gambolo Kecamatan Sibolga Sambas). Lalu Harta Rp20 juta dan Hesti Rp30 juta (warga Tukka, Tapteng). Kemudian Lincah Rp25 juta warga Hutanabolon Tukka, Tapteng, Lisma Rp35 juta warga Sorkam, Nengsi Rp20 juta, dan Rebekka Rp10 juta. Dan total keseluruhan uang yang belum dikembalikan mencapai Rp210 juta.

Saat ditanya mengapa kasus tersebut tidak dilaporkan ke polisi, Selamat mengaku, jika sampai ke pihak kepolisian, dia khawatir uangnya tidak dikembalikan. Sehingga dia memilih cara kekeluargaan.

“Sebenarnya niat untuk mengadukan kasus ini ke aparat hukum memang ada. Namun mengingat bila kasus ini nantinya sudah ditangani polisi, maka kami sangat khawatir uang kami nantinya tidak dikembalikan oleh LP,” katanya.

Dia berharap, melalui pertemuan istrinya dan adiknya dengan anggota DPRD Sibolga, Senin (1/2), diperoleh solusi. Sebab anak LP, saat ini duduk sebagai anggota dewan.

“Tidak ada niat kami untuk mempermalukan anaknya, AM selaku anggota dewan. Namun setidaknya melalui anaknya, kami dapat dipertemukan dengan ibunya agar uang kami segera dapat dikembalikan,” harapnya.

Sementara itu, LP saat dihubungi melalui telepon selulernya kemarin sekitar pukul 14.00 WIB mengaku berada di jalan Sibolga–Tarutung. Saat ditanya tentang dirinya dituding sebagai calo CPNS, LP langsung mengelak. Ia mengatakan, nantinya hal itu dibicarakan bila dia sudah tiba di Sibolga.

Namun, saat dihubungi kembali sekitar pukul 17.00 WIB, LP tidak mengangkat HP-nya. Setelah berkali-kali dihubungi, HP-nya tidak aktif lagi.

Seperti diberitakan, LP dituding menjadi calo penerimaan CPNS. Tiga korban, yang mengaku telah menyetorkan uang dengan jumlah total Rp70 juta, meski telah beberapa kali mengikuti ujian penerimaan CPNS, namun tak kunjung lulus. Kesal, korban pun memutuskan melapor ke DPRD Sibolga, Senin (1/2).

Yang mendatangi gedung DPRD adalah dua kakak beradik, Yanti Herawati Hutabarat (30) dan Rodiana Hutabarat (28), warga Jalan Gambolo Kecamatan Sibolga Sambas. Keduanya melaporkan LP, oknum yang telah menerima uang sebesar Rp70 juta, dan menjanjikan keluarganya bisa diterima menjadi CPNS.

Menariknya, satu dari delapan anggota DPRD yang menerima kedatangan mereka di ruang Wakil Ketua DPRD, adalah putra LP, yakni AM. Sementara tujuh anggota DPRD lainnya yakni Pantas Lumbantobing, Muktar Nababan, Jamil Zeb Tumori, Henry Tamba, Jimmy Hutajulu, Suryanti Sidabutar, dan Megawati Hutagalung.

Kepada para wakil rakyat tersebut, Yanti membeberkan, 3 orang dari keluarganya yakni suaminya Selamat Sigalingging (32), serta dua adiknya Rodiana Hutabarat dan Zetro Hutabarat (29), telah menjadi korban penipuan oleh LP, yang juga penduduk Sibolga.

Diterangkannya, sebenarnya kasus tersebut terjadi tahun 2007. Namun karena sudah hampir berjalan 3 tahun tidak ada itikad baik dari LP untuk mengembalikan uang mereka yang sempat disetorkan melalui rekening anaknya, OM, akhirnya korban mengadukan nasib mereka ke DPRD Sibolga. Harapannya, anggota dewan dapat menjadi mediator, mengingat putra LP merupakan anggota dewan di Sibolga.

“Kejadian ini sudah lama berlangsung. Ketika itu LP mengatakan ada pelamaran CPNS di sejumlah kabupaten/kota. Kalau ada yang berminat menjadi PNS, dia (LP, red) bisa meluluskannya melalui seorang perantara di Medan. Namun untuk dapat lulus menjadi PNS, harus menyetor sejumlah uang panjar melalui rekening anaknya,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Yanti, untuk meyakinkan keluarganya, LP mengundang mereka ke Medan untuk mengikuti bimbingan tes di kediaman AH, tepatnya di belakang asrama Brimob Medan.

“Namun setelah ditunggu-tunggu, hingga saat ini tidak ada realisasi keluarga kami bisa lulus menjadi CPNS. Padahal sudah mendaftar dan mengikuti ujian beberapa kali,” sebutnya.

Karena tidak lulus dan mengingat perjanjian bila tak lulus uang akan dikembalikan, lanjut Yanti, keluarganya pun meminta LP mengembalikan uangnya. Namun LP hanya mengatakan, uangnya tidak ada lagi, sebab sudah disetor kepada rekannya, R di Medan.

“Karena LP tidak bertanggung jawab untuk mengembalikan uang kami, maka kami mengadukan masalah ini kepada dewan. Kiranya melalui bapak rakyat ini, uang kami dapat kembali,” harapnya.

Merasa disudutkan, AM langsung menjelaskan, bahwa orangtuanya bukannya tidak mau bertanggungjawab. Sebab, katanya, R sudah diadukan ke Poldasu oleh orangtuanya.

“Saya berharap kalian bersabar dulu. Sebab masalah ini sudah diadukan ke Polda. Namun bila kalian tak bersabar, silahkan buktikan ke pengadilan!” tukas AM seraya menambahkan dia tak tahu-menahu soal kasus ini. Sebab saat itu dia masih berada di Jakarta.

Mendengar penjelasaan AM, angota DPRD lainnya menyarankan agar ia menjadi mediator antara keluarga Yanti dengan orangtuanya.

 

http://www.metrosiantar.com/

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: