“A Fool and His Money”

2010-02-27
Oleh: JB Blikololong

Banyaknya pejabat publik yang terindikasi korupsi, seperti dilansir media akhir-akhir ini, mengingatkan saya akan film A Fool and His Money (1995). Film komedi yang dibintangi Jonathan Penner dan Sandra Bullock itu berkisah tentang Preference Church (PC), agama baru yang mengajarkan egoisme dan kerakusan.

“Dari kodratnya, manusia itu egois, rakus, dan haus kekuasaan. Berbuat baik itu tidak baik. Hati nurani adalah dosa terbesar kapitalisme”, kata Ian Clarity (Gerald Orange), pemimpin spiritual PC. Mereka menerbitkan buku-buku berjudul tak lazim, seperti Panduan Untuk Berselingkuh dan Kiat Menjadi Kaya dengan Memeras Orang Miskin yang ternyata laku seperti kacang goreng. Codman (Jonathan Penner), si tolol dalam film ini, tampil sebagai ikon kerakusan.

Banyak penganut “agama lama” pindah ke PC karena agama lama yang menjanjikan surga dianggap membuat hidup tambah susah dan rentan penyakit. “Tadinya saya bekerja di sebuah yayasan amal untuk membantu orang miskin. Saya mengidap darah tinggi dan jantungan. Tetapi sejak masuk PC saya tak mau lagi bantu orang-orang lain. Saya mengorupsi uang yayasan. Saya selingkuh. Saya meludahi orang buta. Alhasil, kini dokter bilang saya sudah sembuh total,” kata Gladys.

“Dulunya saya pialang di pasar modal. Etika pialang (“kepentingan klien nomor 1”) harus kupatuhi. Saya sakit kanker, dan menurut dokter ajalku tinggal menghitung hari. Setelah pindah ke PC, saya langgar etika pialang, kepentingan pribadi jadi nomor satu! Dan, kini dokter bilang kankerku tak ganas lagi,” ujar Joseph. “Dulu saya miskin, tak bisa ngomong Inggris. Harus jujur pada penumpang. Tapi sejak masuk PC, pada saat mengantar penumpang saya permainkan argometer. Kini saya kaya, dan sudah bisa berbahasa Inggris,” kata seorang supir taksi asal India.

Para pemimpin “agama lama” pusing tujuh keliling karena tempat ibadah nyaris kosong. Tuan Kardinal terpaksa menggelar rapat darurat untuk menemukan solusi. Untung, mereka berhasil menyadarkan umatnya. Cerita film berakhir dengan bubarnya PC setelah para penganutnya tahu bahwa Ian Clarity memberi sedekah kepada orang miskin, tindakan yang bertentangan dengan inti ajarannya sendiri.

Sarana Jadi tujuan

Ian Clarity, dalam film ini, disebut tolol karena ia menjadikan uang (sarana) sebagai tujuan. Para koruptor juga tolol karena alasan yang sama. Georg Simmel, dalam Philosophy of Money (1900) menyebut budaya uang sebagai lambang perbudakan manusia oleh sarana karena uang yang adalah sarana justru mereduksi segala nilai (tujuan) menjadi sarana. Maka, menurut Simmel, para pemburu uang memperlihatkan sifat rakus, kikir, ekstravaganza (boros), sinis, dan blasé (tak bergairah). Orang rakus dan kikir mengidap mania psikologis untuk melakukan akumulasi harta/uang. Mereka ibarat tupai yang tak henti-hentinya menimbun. Yang penting bagi mereka bukan uangnya, tapi sekadar “memiliki” uang. Sifat rakus dan kikir, kata Simmel, adalah deformasi patologis dari kegilaan akan uang. Batin orang kikir tertindas karena mereka menjadi hamba uang. Berarti, hamba dari hamba, karena uang sebetulnya hanya sarana. Uang tidak memberikan apa-apa kepada orang rakus, dan orang kikir tak dapat menikmati kekuasan dari uang.

Orang boros, kata Simmel, bukan dia yang menghamburkan uang, tapi yang membeli barang yang sebetulnya tidak dibutuhkan. Pemboros tak pernah menghargai uang, tetapi merasakan nikmatnya “membuang-buang uang”. Orang kikir “suka” memiliki uang, pemboros “suka” menghamburkan uang.

Sifat sinis dan blasé adalah kebalikan dari rakus dan kikir. Sinisme dan blasé adalah proses endemik dalam budaya uang. Orang sinis merendahkan nilai-nilai tertinggi lalu menggantinya dengan uang, sebaliknya orang blasé tak mengacuhkan nilai. Membeli sesuatu dengan uang, kata Simmel, adalah proses yang mekanistis, sebab itu tak menggairahkan. Agar bergairah, dia butuhkan stimulasi dan impresi-impresi ekstrim.

Seandainya manusia dari kodratnya egois dan tamak (economic man), seperti asumsi dasar kapitalisme yang jadi tema film di atas, ada alasan untuk berputus asa. Tetapi, seperti terlihat di akhir film, Ian Clarity tergerak dan membantu orang miskin. Ini sekaligus menegaskan bahwa dari kodratnya manusia bersifat sosial (social man).

Para koruptor adalah orang tolol karena menjadikan sarana (uang) sebagai tujuan. Mereka sebetulnya tidak “menikmati” uang dan hartanya karena perilaku rakus, kikir, boros, sinis, dan blasé. Tidak heran Jacob Needleman (1991), mengatakan semua kemelut di dunia timbul karena manusia belum paham betul apa itu uang. A fool and his money adalah peribahasa abad 16 yang selengkapnya berbunyi A fool and his money are soon parted (Si Tolol dan uangnya cepat berpisah). Memang, itu ter- jadi juga dengan para koruptor. Penulis adalah Kandidat Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia.

Dikutip dari http://www.suarapembaruan.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: