Banjir Kolang 5 Tahun Sekali

Selasa, 02 Maret 2010

TAPTENG–METRO; Musibah banjir melanda ratusan rumah warga di enam desa Kecamatan Kolang Senin (22/2) lalu, ternyata bukan untuk pertama kali ini terjadi. Namun telah terjadi secara berulang sebanyak sekali dalam lima tahun, dan yang terakhir 2005 lalu. “Peristiwa banjir di Kecamatan Kolang bukan baru kali ini terjadi, setiap lima tahun air Sungai Kolang naik kepermukaan,” kata Camat Kolang Jonnadi Marbun, kepada METRO dihubungi melalui telepon selulernya, Minggu (28/2) terkait peristiwa banjir yang terjadi baru-baru ini di Kecamatan tersebut. Dia mengatakan, penyebab banjir Kolang bukan diakibatkan oleh tangan–tangan jahil yang melakukan perusakan alam seperti illegal logging (perusakan hutan, red) di hulu sungai akan tetapi besar kemungkinan disebabkan oleh meluapnya dua sungai besar yakni Sungai Mompang dan Aek Raisan. Kedua sungai itu kata Jonnadi, bermuara ke sungai Hurlang Kolang. “Jadi, peristiwa banjir yang melanda enam desa di Kecamatan Kolang, murni akibat meluapnya dua sungai besar yang seluruhnya bermuara ke Sungai Hurlang,” sebut Jonnadi Marbun.

Masih kata Jonnadi, pasca banjir kondisi daerah atau enam desa yang digenangi banjir sudah berangsur–angsur normal. Seluruh penduduk sudah kembali ke kediaman masing–masing. Namun nahas, dua unit rumah warga di Dusun Kampung Lama Desa Satahi Nauli hanyut terbawa arus sungai tapi tidak ada korban jiwa. “Kondisi ini telah kita laporkan ke Pemkab Tapteng terutama terhadap kedua unit rumah warga tersebut, juga telah kita laporkan ke Dinas Sosial setempat guna dapat ditindaklanjuti,” tuturnya.

Lanjut kata Jonnadi, sesuai hasil pendataan petugas penanganan bencana alam di lapangan kerugian warga akibat banjir kolang diperkirakan mencapai Rp400 juta. Akibat banjir itu, banyak peralatan rumah tangga warga yang rusak, sejumlah ternak mati terbawa arus sungai dan hasil pertanian rusak. “Semua ini telah kita laporkan ke Pemkab Tapteng dan pihak pemkab sendiri pasca banjir langsung menyalurkan bantuan berupa dapur umum dan obat–obatan serta pendirian tenda–tenda darurat bagi warga,” tukasnya.

Sebelumnya, Artha Sihombing (31), warga Kecamatan Kolang melaporkan kondisi lapangan pasca banjir, tepatnya pada Selasa (23/2) lalu. Sejumlah warga korban banjir berbondong–bondong mendatangi kantor Kecamatan Kolang Nauli untuk mengembalikan sejumlah bantuan pemerintah karena merasa terhina. Waktu itu, Bupati Tapteng Tuani Lumbantobing menyerahkan bantuan langsung melalui Kepala Lingkungan (Kepling) berupa beras, indomi kepada warga. “Soalnya masing–masing warga hanya diberikan jatah 1 kg beras dan 1 bungkus indomi bagi dua,” tukas Artha kesal.

Artha Sihombing mengaku sangat mengeluhkan keadaan itu dan dia berharap Bupati Tapteng Tuani Lumbantobing dapat mengambil tindakan tegas, kalau sistem pembagian bantuan pangan kepada korban banjir tidak disesuaikan dengan prosedur yang sebenarnya.

Sekadar mengingatkan, peristiwa banjir di Kecamatan Kolang terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng) semalam suntuk sejak Minggu (21/2) sore sekitar pukul 16.00 WIB. Dikatakan dia, debit air di dua sungai besar yang bermuara ke sungai Hurlang Nauli yakni sungai Aek Mompang dan Aek Raisan sekejap membesar dan meluap. Akibatnya badan sungai tidak mampu menampung debit air dan akhirnya merembes kedaratan lalu menggenangi rumah–rumah warga setinggi 1–1,5 meter di enam desa diantaranya Desa Lobu Harambir, Dusun Labuan Nasonang, Dusun Sidua Rupa, Dusun Kampung Lama, Dusun Sigoring-goring, Kampung Melayu,  Dusun II dan Dusun V.

Dikutip dari http://www.metrosiantar.com/

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • hermida putrilaut  On Selasa, 27 April, 2010 at 8:48 PM

    kejaian seperti ini sudah pernah dtg sblum ya tp kita hya bs melihat ya saja.

    skrg kita hrus memikirkan hal apa yg hrus kita lakukan tuk mengatsi hal tersebut.

    byak orang yg dirungikan dgan bencana alam ini.

    dari pihak pemerintahan sendiri pun tdk serius memberikan bantuan kpd korban banjir.

    buat pemerintahan tapteng tolong lah msyrkat tapteng lbh diperhatikan lg.

    terima kasih

  • Aminuddin Zega  On Kamis, 25 Maret, 2010 at 10:55 AM

    Saya turut prihatin atas bencana tahunan yg selalu melanda huta Kolang dan sekitarnya….
    saran saya adalah : Supaya Pemerintahan daerah Kolang mengajak Masyarakat untuk membangun sarana pembuangan saluran air hujan dan memperbaiki saluran2 yang tersumbat oleh sampah rumah tangga…

    salam…
    saya Alumni SMA N 1 KOLANG
    T.A 2006

  • junianty hutabarat  On Rabu, 10 Maret, 2010 at 10:07 AM

    saya turut sedih dengan bencana banjir yang sering menimpa kolang hutaku, smga kita bs smakin berbenah diri kedepan agar lebih bersahabat dengan alam.cayoooooo kolang

  • junianty hutabarat  On Rabu, 10 Maret, 2010 at 10:04 AM

    sebagai patra daerah saya turut sedih atas musibah banjir yang di kolang,ne menjadi peringatan bwt wrg kolang biar ga sembarangan lagi menebang hutan,ingatlah saudara2 ku hiduo qt tergantung pada hasil hutan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: