Minyak Tanah Menghilang Di Kecamatan Barus dan Andam Dewi

Jumat, 19 Maret 2010

BARUS-METRO; Minyak tanah (mitan) menghilang di Kecamatan Barus dan Andam Dewi, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), sejak satu bulan terakhir. Kondisi ini membuat warga di dua kecamatan itu resah, dan berharap kepada pemerintah segera bertindak mengatasi kelangkaan minyak tanah itu.

Iran Pasaribu (54), salah seorang pedagang mi goreng di Desa Kampung Mudik, Kecamatan Barus, kepada METRO, Kamis (18/3), mengakui sangat sulit mendapat minyak tanah dewasa ini. Sementara, stok minyak tanah yang ia beli dari pangkalan sebulan lalu sudah habis. Agar dapat bertahan, pria ulet ini terpaksa menggunakan kayu bakar agar usaha mi goreng miliknya tidak sampai tutup. “Kami terpaksa mencari kayu bakar ke pinggiran Aek Sirahar setelah minyak tanah menghilang dari peredaran di Barus,” ungkap Iran.

Dia mengatakan, biasanya dalam satu minggu ia mendapat jatah minyak tanah 50 liter dari salah satu pangkalan di Kecamatan Barus. Minyak tanah sebanyak itu kata Iran, habis hanya untuk mengisi kompor yang digunakan untuk memasak masakan keperluan kedai mi goreng miliknya. “Jadi, saat ini kami sangat kesulitan. Lihatlah jerigen ini, setetes pun minyak tanah tak ada lagi,” keluh Iran.

Diungkapkan dia lagi, mereka sudah mencari ke berbagai pangkalan minyak tanah di kecamatan itu namun tidak pernah menemukan ada minyak tanah. “Jadi memang sulitlah, jangankan digunakan untuk berjualan, untuk memasak pun tak ada lagi. Terkadang, kami malah menggunakan solar,” keluhnya lagi.

Namun ia mengaku heran mengapa minyak tanah sulit didapat di Kecamatan Barus, sebab dia sendiri mengaku sering melihat truk tangki yang biasa mensuplai minyak tanah untuk Kecamatan Barus dan Andam Dewi, melintas dan menyinggahi pangkalan. Tetapi ketika ditanya ketersediaan minyak tanah, pemilik pangkalan selalu saja bilang tidak ada. “Saya heran ke mana minyak tanah itu dijual,” ujar Iran geleng-geleng kepala.

Lebih lanjut dikatakan Iran, penderitaan masyarakat sebenarnya sudah lengkap. Pertama sekali dikatakan Iran bahwa harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp3.200 per liter belum berubah. Namun fakta di lapangan dijual seharga Rp5 ribu per liter. “Dari pemberlakuan harga ini pun sebenarnya sudah patut kami protes. Begitu pun kami tetap saja diam. Bahkan, sekalipun dijual seharga Rp5 ribu per liter asal minyaknya ada kami tetap membelinya. Mungkin perilaku konsumen itulah yang dimanfaatkan para pemilik pangkalan sehingga sesuka hati menawarkan minyak tanah dengan harga tinggi,” ujar Iran panjang lebar.

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah setempat segera bertindak untuk mengatasi keresahan yang dialami warga Barus dan Andam Dewi. “Jika melihat situasi saat ini, sebaiknya pemerintah harus turun langsung dan memantau distribusi minyak tanah itu sampai ke tangan masyarakat. Sebab bukan tidak mungkin si pemilik pangkalan atau oknum-oknum melakukan penimbunan,” ulas Iran.

Terpisah, Mambo, salah seorang pemilik pangkalan di Barus, kepada METRO membenarkan kelangkaan minyak tanah. Dia mengatakan kelangkaan minyak tanah sudah berlangsung sejak beberapa bulan ini. “Kami sendiri sudah seminggu ini tak lagi membuka pangkalan, karena tidak ada lagi yang mau dijual,” tukas Mambo, sembari menunjuk ke arah tong-tong kosong yang terdapat di pangkalan miliknya.

Diakuinya, selama ini pasokan minyak tanah selalu masuk dua kali dalam seminggu dari agen dengan jatah 20 drum. “Seharusnya sudah masuk minggu kemarin,” aku Mambo.

S Sigalingging, pemilik pangkalan minyak tanah lainnya di Aek Dakka mengatakan hal senada. Dia mengakui hari itu akan mendapat jatah minyak tanah sebanyak dua drum. Biasanya bisa mencapai lima drum. “Jumlah minyak sebanyak itu biasanya kita salurkan untuk empat desa. Jadi, kalau cuma dua drum-nya nanti yang datang, manalah cukup. Saya pun heran sebenarnya melihat sikap agen, terkadang minyak berlimpah. Kalau sekarang lagi sulit, agen malah tak memasok sesuai orderan,” keluh Sigalingging.

Dikutip dari http://metrosiantar.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • MEYER TULUS NAINGGOLAN  On Selasa, 8 Juni, 2010 at 11:17 AM

    Saya salah satu perantau dari Andam Dewi, sangat menyarankan kepada saudara-saudari yang di kampung halaman, agar senantiasa mengikuti saran yang di berikan pemerintah pusat dan setempat yang telah kita ketahui bersama peralihan dari minyak menjadi gas.
    Sekarang perlu di pertanyakan pemerintah setempat, apa selama ini tidak ada pemberitahuan tentang itu atau masyarakat setempat yang tidak bisa meninggalkan cara lama mereka.
    mohon kepada Barus-Metro untuk menbantu mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: