OTONOMI DAERAH: Banyak “Mafia” Permainkan Pemekaran Wilayah

Senin, 22 Maret 2010

JAKARTA (Suara Karya): Persyaratan untuk menentukan suatu daerah layak atau tidak dilakukan pemekaran, kerap dipolitisasi. Bahkan, banyak “mafia” diduga mempermainkan pemekaran. Antara lain, hasil studi kelayakan yang dikeluarkan perguruan tinggi mengenai evaluasi pemekaran sering kali merupakan pesanan dari sejumlah calon kepala daerah yang ikut pemilu kepala daerah (pilkada).

“Pada kenyataan ada daerah yang seharusnya tidak memiliki kemampuan untuk dimekarkan, tetapi dinyatakan lolos studi kelayakan dari perguruan tinggi. Ini yang kadang digunakan para kandidat itu untuk menarik simpati konstituen,” ujar Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi EE Mangindaan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bahkan, tutur dia melanjutkan, bukan tidak mungkin perguruan tinggi tersebut menjadi tim sukses dari kandidat yang bersangkutan.

“Seharusnya mereka (perguruan tinggi-Red), bisa mengemukakan bahwa daerah itu belum bisa (dimekarkan). Karena, jika dilihat dari pendapatan asli daerah (PAD) yang didapat belum memenuhi syarat, misalnya tidak mampu untuk membiayai gaji DPRD,” katanya.

Sebenarnya dari sisi perundang-undangan, Mangindaan menilai, penghentian (moratorium) pemekaran dapat diterapkan. Sebab, pada dasarnya hal itu dilakukan dengan batas waktu tertentu.

Dengan demikian, ucap dia, perlu adanya pengawasan yang lebih ketat dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama DPR dalam setiap menentukan pemekaran suatu daerah.

“Perlu dievaluasi berapa jumlah provinsi atau kabupaten yang seharusnya ada di seluruh wilayah Indonesia. Mungkin juga dapat ditetapkan secara bertahap jumlah daerah yang dapat dimekarkan setiap tahunnya,” katanya.

 

Evaluasi

 

Mangindaan mengakui, pemekaran daerah tidak boleh dilakukan sembarangan. Sebab, berdasarkan hasil evaluasi Kemenneg PAN dan Reformasi Birokrasi tercatat tingkat kualitas pelayanan publik di daerah pemekaran masih sangat minim.

Bahkan, dia menambahkan, terdapat di sejumlah daerah pemekaran yang belum dapat menjalankan pengadaan pelayanan kepada masyarakat secara layak.

“Kantor untuk bupati saja ada yang masih menggunakan bekas rumah camat. Bagaimana bisa optimal jika kondisinya seperti itu,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Golkar Basuki Tjahaja Purnama mendukung evaluasi terhadap daerah pemekaran.

Menurut dia, berdasarkan laporan pemerintah, Kemendagri telah menargetkan evaluasi terhadap 205 daerah otonomi hasil pemekaran (DOHP) akan selesai pada Maret ini.

Dalam hal ini, tutur dia, evaluasi tersebut dilakukan dengan menggunakan data kuantitatif melalui pengisian kuisioner oleh sekretaris daerah, kepala badan perencanaan daerah, dan asisten pemerintah daerah yang membidangi pemerintahan di daerah pemekaran.

“Evaluasi DOHP ini bertujuan, pertama, untuk memahami, menganalisis, dan memberikan penilaian terhadap kinerja DOHP, terutama dalam peningkatan kemakmuran, kualitas tata pemerintahan, pelayanan publik, dan daya saing daerah,” ujar mantan bupati Belitung Timur itu.

Kedua, ucap Basuki, memetakan kinerja pemerintahan daerah pada 205 DOHP, serta mengelompokkannya ke dalam berbagai kategori sesuai dengan ukuran kinerjanya. Ketiga, mengembangkan program dan strategi yang tepat untuk perbaikan kinerja DOHP dan DISP.

“Keempat yakni, merumuskan kebijakan yang terkait dengan pembentukan, penghapusan, dan penggabungan suatu daerah otonom di Indonesia,” kata Basuki.

Melalui evaluasi ini, tutur vokalis Parpol Beringin di Senayan ini, akan diketahui dinamika desentralisasi yang terjadi di suatu daerah yang dimekarkan dan bagaimana implikasinya terhadap daerah induk sehingga diperoleh informasi yang komprehensif.

http://www.suarakarya-online.com

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: