Camat Sosorgadong Aniaya Staf – Korban Minta Polres Bertindak Tegas

Camat Sosorgadong Aniaya Staf – Korban Minta Polres Bertindak Tegas

Thursday, 15 April 2010

Frida br Sihombing penduduk Kelurahan Sosorgadong, Kecamatan Sosorgadong Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menjadi korban penganiayaan oknum Camat Sosorgadong berinisial HS. Kasus ini sudah diadukan ke Polsek Barus yang dinilai korban  lamban dalam menangani kasus  penganiayaan tersebut.

Pasalnya, sejak kasus penganiayaan yang dilakukan atasannya tersebut resmi dilaporkan ke polisi, pada Kamis (18/3) lalu, sekira pukul 15.00 WIB dengan surat tanda penerimaan laporan ke Polsek Barus No Pol : LP/23/III/2010/SU/RES TAPTENG/SEK BARUS tanggal 18 Maret 2010.
“Saya heran, sampai saat ini polisi belum juga melakukan penahanan badan terhadap Camat Sosorgadong, HS. Padahal saya sudah resmi mengadu dan dilengkapi dengan visum penganiayaan,” ungkap Frida br Sihombing didampingi keluarganya kepada Global di Sibolga, Rabu (14/4).
Frida br Sihombing menceritakan kronologis yang menimpa dirinya, pada Rabu (17/3) sekitar pukul 10.00 WIB, tepatnya di dalam ruangan Camat Sosorgadong HS, yang saat itu dalam keadaan pintu terkunci. Tidak disangka – sangka HS melakukan pemukulan terhadap kepala korban 2 kali dan pipi 1 kali.
Menurut korban (Frida br Sihombing), masalah itu berawal, ketika korban sebelumnya berangkat ke Tarutung Tapanuli Utara (Taput) dengan meminjam uang kepada HS dengan jumlah Rp2 juta dengan catatan dicicil setiap bulannya.
Tetapi menurut korban,  HS  memohon agar korban tidak usah mengembalikan uang pinjaman tersebut. Namun saat di Tarutung HS mengetahui bahwa korban bertemu dengan pacarnya, dan diduga karena cemburu, akhirnya HS meminta dirinya supaya cepat pulang.
Dan dia pun menuruti permintaan HS dan kembali pulang dari Tarutung. Tetapi, tepat pada Rabu (17/3) pagi, diruangan Camat Sosorgadong, HS memaksa agar dia mengembalikan uang yang dipinjamnya hari itu juga. Karena dia tidak memiliki yang cukup sebanyak Rp2 juta, tetapi hanya Rp1,5 juta dan membayarnya dengan berjanji bahwa kekurangannya akan dilunasi bulan April.
“Secara tiba-tiba oknum Camat HS langsung memukul kepala saya sebanyak 2 kali dan pipi 1 kali. Mendapat perlakuan kasar seperti itu, saya hanya bisa menjerit dan minta tolong sambil membuka pintu ruangan kantor Camat,” jelasnya.
Untung saja, lanjut Frida br Sihombing, saudaranya Estar Silaban yang juga kebetulan kerja di kantor Camat tersebut mendengar jeritannya dan datang ke lokasi kejadian.
Merasa tidak senang karena mendapat perlakuan kasar seperti itu, pada hari itu juga dia langsung melaporkan perbuatan atasannya kepada Polsek Barus. Namun sangat disayangkan laporannya tersebut tidak ditanggapi saat ini, sebab oknum Camat HS masih terus berktivitas di kantor Camat Sosorgadong setiap harinya.
Kapolres Tapteng, AKBP Dicky Patrianegara melalui Kapolsek Barus AKP JG Siburian saat dikonfirmasi melalui selulernya membenarkan adanya laporan penganiayaan tersebut dan sudah memeriksa 3 orang saksi. “Kita bukan lamban menangani perkara ini, namun harus mengikuti prosedur dan terlebih dahulu meminta izin kepada atasannya,” katanya singkat.

Sumber: http://www.harian-global.com

Dari sumber lain dengan topik yang sama.

Camat Penganiaya Staf Bebas Berkeliaran 

Kamis, 15 April 2010

SOSORGADONG-METRO; Camat Sosorgadong berinisial HS, yang dilaporkan melakukan penganiayaan terhadap salah seorang stafnya Frida br Sihombing ke Polsek Barus, Kamis (18/3) lalu, hingga kini masih bebas berkeliaraan. Korban yang berdomilisi di Kelurahan Sosorgadong itu menilai kinerja penyidik Polres Tapteng lamban.

Frida br Sihombing, korban penganiayaan Camat Sosorgadong, didampingi keluarganya, kepada METRO, Kamis (13/4), mengaku heran mengapa Camat yang telah menganiaya seperti dilaporkan ke Polsek Barus No. Pol:LP/23/III/2010/SU/RES TAPTENG/SEK BARUS, tanggal 18 Maret 2010, hingga kini belum ditahan.

Frida menceritakan kronologis yang menimpa dirinya, bermula pada Rabu (17/3), sekitar pukul 10.00 WIB, tepatnya di dalam ruangan Camat Sosorgadong HS. Saat itu, korban berada di dalam ruangannya yang saat itu dalam keadaan pintu terkunci. Tidak disangka-sangka HS melakukan pemukulan terhadap kepala korban sebanyak 2 kali dan pipi 1 kali.

Menurut korban, masalah itu berawal ketika korban sebelumnya berangkat ke Tarutung Tapanuli Utara (Taput) dengan meminjam uang kepada HS sejumlah Rp2 juta. Saat itu, mereka sepakat untuk pengembaliannya cukup dengan dicicil setiap bulannya. Meski menurut korban, HS saat itu justru memohon agar korban tidak perlu mengembalikan uang pinjaman tersebut.

Singkat cerita, saat di Tarutung HS mengetahui bahwa korban bertemu dengan pacarnya. Diduga karena cemburu, akhirnya HS meminta dirinya supaya cepat kembali ke Sosorgadong. Dan dia pun menuruti permintaan HS dan kembali pulang dari Tarutung.

Tetapi, tepat pada Rabu (17/3) pagi, di ruangan Camat Sosorgadong, HS memaksa agar dia mengembalikan uang yang dipinjamnya hari itu juga. Karena dia tidak memiliki uang sebanyak Rp2 juta. Ia hanya bisa menyanggupi membayar Rp1,5 juta dan sisanya akan dilunasi pada bulan April. “Namun secara tiba-tiba dan tidak saya sangka-sangka oknum Camat HS langsung memukul kepala saya sebanyak 2 kali. Tak hanya itu pipi saya juga ditambar sebanyak 1 kali. Mendapat perlakuan kasar seperti itu, saya hanya bisa menjerit dan minta tolong sambil membuka pintu ruangan kantor Camat,” katanya.

Untung saja, lanjut Frida, saudaranya Estar Silaban yang juga kebetulan kerja di kantor Camat Sosorgadong tersebut mendengar jeritannya dan datang ke lokasi kejadian. Kemudian oknum Camat keluar dengan mengeluarkan kata-kata; “Uangku yang saya minta, kok kamu malah menangis,” kata HS dan pergi begitu saja.

Merasa tidak senang karena mendapat perlakuan kasar seperti itu, korban pada hari itu juga langsung melaporkan perbuatan atasannya ke Polsek Barus. Namun sangat disayangkan laporannya tersebut tidak ditanggapi hingga saat ini, sebab oknum Camat HS masih terus beraktivitas di kantor Camat Sosorgadong setiap harinya.

Sementara, Kapolres Tapteng AKBP Dicky Patrianegara, melalui Kapolsek Barus AKP JG Siburian, saat dikonfirmasi METRO melalui telepon selulernya membenarkan adanya laporan penganiayaan tersebut dan sudah memeriksa 3 orang saksi. Menurut dia, pihaknya bukanlah lamban dalam menangani perkara itu, namun pihaknya harus mengikuti prosedur yang ada dengan terlebih dahulu meminta izin kepada atasannya. “Memang ada laporan yang kami terima dalam kasus penganiayaan tersebut, dan kami belum dapat memanggil pelaku karena harus  ada prosedur yang dilakukan terhadap pemanggilan pejabat yakni harus ada surat pemberitahuan kepada atasannya,” ujar Kapolsek singkat.

Kapolres Tahu

Menyangkut adanya kasus pengaduan penganiayaan atas Frida br Sihombing warga Kecamatan Sosorgadong yang mengadukan atasannya Camat Sosorgadong berinisial HS ke Polsek Barus, Pahumas Polres Tapteng Kompol Muchsin, ketika dikonfirmasi mengakui bahwa Kapolres Tapteng AKBP Dicky Patria Negara SH SIK MSi sudah mengetahui kasus itu. “Kemarin, salah seorang warga dari Kecamatan Sosorgadong sudah ada yang datang untuk mempertanyakan terkait kasus ini ke Polres Tapteng. Kita jelaskan bahwa pihak kepolisian akan serius menangani pengaduan ini,” katanya.

Kompol Muchsin menampik bila aparat Polres Tapteng dikatakan lamban dalam memroses kasus pengaduan penganiayaan tersebut, sebab pihak kepolisian dalam memroses salah seorang pejabat itu harus melalui prosedur terlebih dahulu. “Mengingat orang yang dilaporkan memiliki atasan, maka sebelum kita melakukan pemanggilan, sesuai prosedurnya pihak kepolisian harus terlebih dahulu meminta izin dari atasannya. Bila atasannya setuju, maka selanjutnya kita akan memrosesnya dengan tetap berpedoman kepada azas praduga tak bersalah,” ujarnya. Menurut Kompol Muchsin, keterlambatan bukanlah ada di pihak kepolisian, namun terjadi karena prosedur yang harus dilewati. “Bila pihak kepolisian menabrak prosedur itu, nanti kita bisa dituding tidak menghayati prosedur yang ada. Sekali lagi saya katakan, kepolisian akan serius menangani pengaduan ini,” tandasnya.

Sementara itu Camat Sosorgadong HS, yang dihubungi melalui telepon selulernya tidak mengangkatnya, sekalipun telepon selulernya bernada aktif. Demikian juga, ketika awak koran ini berusaha konfirmasi melalui Short Message Service (SMS) untuk mempertanyakan kebenaran pengaduan salah seorang stafnya melakukan penganiayaan, namun hingga berita ini diterbitkan tidak ada balasan.

http://metrosiantar.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=33279&pop=1&page=0&Itemid=45

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: