Melirik Kehidupan Pandai Besi di Desa Patupangan, Barus

Selasa, 21 September 2010

Modal Usaha Kurang, Penghasilan Pas-pasan Hasludin Limbong (37), pandai besi di Desa Patupangan, Kecamatan Barus, Tapteng. Ia bertahan hidup dari usaha keluarga yang memroduksi berbagai jenis pisau, seperti pisau dapur, parang, sabit, pisau deres karet, pengimas dan lainnya. Di desa itu, sedikitnya 5 orang pandai besi. Namun mereka mengeluhkan modal usaha yang minim, meski begitu mereka tetap bertahan bertahun-tahun lamanya dengan penghasilan pas-pasan.

MARIL RAMBE – BARUS

Para pandai besi di Desa Patupangan itu hanya mampu memroduksi 3 sampai 5 buah pisau atau parang setiap harinya. Pisau yang ia produksi itu biasanya dijual ke pekan-pekan. Namun keuntungan yang diperoleh sangat tipis dari modal yang telah dikeluarkan untuk membuat satu buah pisau. Terkadang ada juga pembeli maupun pedagang keliling pekan-pekan yang menjemput langsung ke kediamannya.

Sementara itu, peralatan yang dipergunakan mereka untuk membuat berbagai jenis pisau masih dengan cara manual. Sehingga, mereka belum bisa memenuhi seluruh permintaan pelanggan, seperti mata kampak dan cangkul. Padahal cangkul sangat dibutuhkan warga Tapteng, karena itu mereka pun sangat mengharapkan bantuan Pemerintah Tapteng untuk memerhatikan usaha mereka. Hasludin Limbong, saat ditemui METRO di rumahnya, Senin (20/9), mengaku bersama dengan keluarganya sudah bertahun-tahun menggeluti usaha pandai besi itu. Dalam satu hari, ia mengaku hanya bisa memroduksi sekitar 3 buah parang panjang/pengimas, parang biasa 3 buah pisau kecil 5 buah, pisau besar 5 buah, karena cara pengerjaannya dilakukan secara manual. Sedangkan untuk modal usaha mereka hanya mengharapkan pinjaman KUR dari Bank BRI Unit Barus. “Dalam satu hari rata-rata, kami hanya bisa memroduksi sekitar 3 buah parang panjang/pengimas, parang biasa 3 buah, pisau kecil 5 buah, dan pisau besar 5 buah. Sedangkan harga jual seperti parang panjang/pengimas sebesar Rp45 ribu per buah, parang biasa Rp35 ribu per buah, pisau kecil Rp7 ribu per buah, pisau besar Rp15 ribu per buah. Kalaulah pemerintah berkenaan memerhatikan kami atau paling tidak mencarikan kami bapak angkat, kami pun bisa memroduksi berbagai jenis pisau lain seperti pisau deres, pisau sabit, kampak dan jenis pisau lainnya dalam jumlah yang lebih banyak, ” katanya.

Ia menambahkan, sebagai pandai besi diakuinya bahwa penghasilannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya sekolah. “Jujur, kami sudah menggantungkan hidup dari pandai besi,” akunya polos.

Jujur, ia berharap agar mendapat perhatian dari pemerintah agar bisa meningkatkan kualitas alat yang digunakannya selama ini mengolah besi menjadi pisau. “Kalaulah ada modal usaha yang cukup, kami sudah bisa memergunakan alat yang lebih canggih. Maka, permintaan warga seperti pembuatan mata kampak, cangkul dan lainnya dapat kami penuhi. Selain itu, bahan baku seperti besi tua bisa distok. Ini kadang-kadang permintaan banyak, tetapi karena bahan baku tidak ada tersedia dan terpaksa harus pergi dulu ke Sibolga untuk mencari besi-besi tua ke daerah lain,” tandasnya. Ayah tiga anak ini kembali menyampaikan harapannya agar pemerintah memerhatikan kehidupan para pandai besi di Desa Patupangan itu.

Sumber:http://metrosiantar.com/METRO_TAPANULI/Melirik_Kehidupan_Pandai_Besi_di_Desa_Patupangan_Barus

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: